walaupun banyak yg menghujat, menuntut, memaki, teriak2… bisakah untuk memundukkan wajah sebentar, lupakan yg pahit sejenak, ingat yg baik2 sebentar, lalu do’akan beliau smoga lapang ‘disana’..
bagaimanapun kita pernah hidup di era kepemimpinannya, bernafas di jamannya.
cukup ingat senyumnya, sejenak saja..
*dan kenapa kita kadang merasa lebih hebat dari Sang Pencipta Dunia yang Maha Pemaaf…*
slamat jalan, pak..
-sebuah catatan untuk sang presiden Indonesia, presiden saya dulu_
4 Comments
Selamat jalan eyang…
Mungkin karena yang pahit lebih banyak daripada yang manis, sehingga manis itu tidak terasa lagi.
Dan kenapa ya kita merasa lebih hebat dari Tuhan dengan memaafkan hal-hal yang bukan kuasa kita.
@ goop

@ herman
sebuah paradoks kah, kawan. sang penguasa saja pemaaf, kenapa kita yg ‘goblok bukan main’ ini malah menyumpah dan pendendam?
yang sudah meninggal ya sudah kita biarkan. sekarang giliran yang masih hidup
’sungguh pesan yang ‘memikat’ , thx ndoro’