yang mengusik waktu-waktu merenung saya adalah orang-orang yang merasa lebih baik dari sekelilingnya, jauh dari membandingkan dengan orang lain, menata dan mendalami dirinya sendiri saja sering megap-megap.  sekuat hati meyakinkan orang akan apa yang ia yakini benar, sementara untuk memahami dirinya sendirinya saja sulit.

tangan terkepal ke atas untuk sesuatu yang tidak jelas, teriak-teriak yang hanya bergaung kalau ada maunya .

ah, sudahlah, coba sejenak ganti kepalan tangan dengan tadahan tangan untuk yang terbaik bagi semua, bukan untuk segelintir golongan.

sedetik teriakan gantikan dengan gumaman do’a, juga untuk semua,

cobalah untuk lebih berfikir, kawan..

2 Comments

  1. Jujur saja saya tersinggung atas ucapan anda kepada para peneriak, ini menunjukkan ketidakpedulian anda kepada negara, dan kepada para korban2 orde baru.

    Anda justru berpihak pada penafisran nilai agama dan budaya yang sempit.

    Cobalah untuk mempelajari dahulu nilai apa yang sedang diperjuangkan oleh para peneriak, baru berfikir.

    Jangan langsung berteriak, nanti anda tidak jauh beda dengan the-so-called-sang peneriak.

  2. @ herman
    tampaknya anda juga harus lebih banyak belajar, berfikir dan menafsirkan dengan lebih bijak, anak muda :) , tapi terimakasih sebelumnya atas ucapannya *dan kita lihat bagaimana pandangan dan fikiran anda ntar 5 taon ke depan*


Post a Comment

*
*