angkot journey

Suatu sore.

Langkah itu menuruni anak tangga sebuah hotel di sudut pinggir kota itu, sejurus kemudian melangkah ke seberang jalan, tadi sempat tanya sana, tanya sini. Lalu menyetop angkutan kota berwarna merah tanpa peduli. Lima menit kemudian.

“.. kiri, payun.. “, sengaja meneriakkan kata yang baru didengarnya dari penumpang lainnya, angkot pun minggir ke kiri. Dua ribu rupiah telah berpindah tangan. Beberapa orang menatapnya heran, dia tidak peduli.

Berjalan ke arah kanan perempatan, menaiki lagi biru tua bawah hijau, menunggu sepuluh sebelum beranjak. Angkot melaju lagi.

Matanya tidak lelah melotot ke kanan dan kiri jalan, berusaha menghapal nama-nama yang banyak tidak ada dalam kamus otaknya. Dan sejuta tanya berusaha untuk dijawabnya sendiri

“..kenapa harus buah batu? Tidak ada batu berbuah dan buah berupa batu? ah“

“..karapitan? hmm apa pula itu? “

“ ..pelajar pejuang, ah pasti sisa-sisa perang, bandung lautan api dulu… “

Dan tak lelah mata itu menyapu bangunan-bangunan tua tapi kokoh dan terlihat homey, apa memang cuma perasaannya sendiri?

Dan sebelum berbelok ke kanan, kembali dia setengah berteriak untuk menghentikan laju angkot yang tidak terdengar lelah. “Hm ..kenapa angkot? Bukannya taxi?” begitu tanya sebagian kawan.

“Taksi disini -katanya –maha l”, lalu macetnya tidak mendukung pula, lagian mata lebih ke arah terlelap daripada nyalang menikmati sore hari yang hangat. Begitu banyak alasan.

Ini rupanya alun-alun yang pernah dibacanya di karya Gola Gong itu, tepat di depan a.k.a sebagai halaman mesjid raya, dan pandangan yang menyejukkan matanya adalah, betapa para kaki lima –sahabat jalanannya- begitu damai menggelar barang dagangannya, tanpa ada sorot ketakutan akan adanya pembersihan, hidup begitu dijamin disini, sejurus dia tersenyum lepas seraya mengedarkan pandangannya. Tukang es krim durian, uli bakar, mainan anak-anak, dan bermacam jenis dagangan lainnya, bahkan kotak wartel pun tenang saja beroperasi di serambi mesjid.

Beberapa saat setelah menuntaskan prosesinya ditempat agung itu, ia berjalan lagi, berbalik arah, melawan arus padat kendaraan ke arah semula dia datang. Setelah menimbang-nimbang tanpa pertimbangan yang jelas, langkahnya terarah masuk ke dalam angkot berwarna hijau, tampaknya tertarik sekali dengan teriak gagah tanpa letih sang calo “..dago…dago, langsung berangkat…”.. dan tetap harus menunggu kanan 7 kiri 5 tengah 2 depan 2, formasi penuh untuk memulai perjalanan, you know what I mean, lah…

Setelah padat, dusel-duselan, dan para penumpang saling beradu pantat, dia sendiri merelakan badan kurusnya terhimpit dengan pasrah ditengah-tengah, gas dipijak, meluncur ke seberang jalan ke arah kanan, ke jalan entah apa namanya, tidak sempat terbaca. Sopir disini penuhy ‘kejutan’, kadang terkejut-kejut saat ngerem ataupun menginjak gas, penumpang rada sempoyongan, tapi jarang ada gerutu, entah pada saat itu saja atau pun sama saja di lain waktu, semua hanya saling menandang, kecuali penumpang yang lagi bersama company-nya, asyik saja mengudara entah tentang apa yang mereka saja yang tahu.

Dan tahu-tahu sudah menyusuri jalan Ir. H. Juanda …. “aneh, kenapa dinamain Dago ya?” bertanya pada diri sendiri. Stelah melihat tulisan jalan Ganeca si kiri jalan, angkot itu dia hentikan lagi. Lalu berjalan lagi menyusuri jalan kampus teknik yang kesohor itu, mengelilingi sebagian areal yang terlalu luas untuk di ukur hanya dengan berjalan kaki. Akhirnya menghentikan langkah, dan bertanya pada penjual majalah dekat pintu gerbang.

“numpang nanya, mas, kalo mau ke cihampelas naek apa lagi ya?, sambil melihat-lihat deretan majalah baru.

Tanpa basi-basi pula anak muda itu langsung menjawab. “naek jurusan Ledeng, a. Ehm, gini aja, jalan kaki aja lurus ke ujung, deket kebun binatang, deket kok, ntar cari tu jurusan ledeng, warna ijo lis kuning kalo gak salah. Ntar stop aja di jl. Cihampelas, die kan belok kanan ke ledeng”.

“terimakasih, mas.”, kembali berjalan ke ujung jalan, melewati trotoar kampus yang penuh bercak putih hasil karya sekresi burung yang nongrong di atas pohon-pohon itu. “pantas saja gak ada orang lewat” dia tersenyum sendiri. Sampai seberang ujung jalan, mencegat angkot yang lebih panjang dari angkot standar, dan sesuai petunjuk sang penjual majalah plus koran, akhirnya sampai juga ke jalan yang pernah dilaluinya beberapa bulan yang lalu, salah satu-satunya jalan yang dia tahu selain jl. Riau. “tour travel payah” mengumpat sesaat pada masa lalu.

Berjalan lurus, beberapa saat menyeberang jalan dan berbelok ke kiri, ada tulisan gede di depan jalan bercabang dua itu. Cihampelas Walk.

Berputar-putar saja disitu, setelah capek sendiri, menaiki lagi angkot panjang bertulisan Cicaheum-Ciroyom pp. sungguh perjalanan yang panjang tampaknya, sementara matahari beranjak turun dan nyaris terlelap. Sang sopir cuek saja, sampai pada terminal ujung kota yang sering disebut Caheum itu, dan bukan dua ribu tapi lama ribuan yang berpindah tangan kali ini. Turun dan kembali bertanya dengan orang di pinggir jalan, dapat petunjuk lagi, mancari-cari lagi, dan akhirnya tertuju pada angkot 01, langsung naiklah dia setelah bertanya singkat “ .. buah batu.. ?”

Sungguh baru tersadar setelah beberapa ratus meter, perempatan bertuliskan nama jalan yang ditujunya itu terlewati. Tanpa peduli menghentikan lajunya, terulang lagi tanya pada lelaki di pinggir jalan. Dan ritual naik jurusan baru terulang lagi, kali ini Cijerah-Ciwastra pp. malam sudah lewat kala sampai di tempat awal dia memulai perjalanan pagi tadi.

“..kapan dan kemana lagi langkah selanjutnya.. “, sepasang kaki itu beranjak lagi.


About this entry