kematian cuma sebagai selingan

sekali lagi muncul berita, yang kembali timbul tenggelam dan hampir tidak dapat dipastikan kebenarannya, ya satu lagi calon abdi negara yang bernama praja sekolah tinggi pembunuhan dalam negeri itu terbunuh, mati, ya mati, bukan meninggal atau wafat.

dan sekali lagi bermacam pembelaan dan pembenaran dilantunkan semua pihak yang bersinggungan dengan nyawa anak manusia itu, mereka tidak hentinya merasa abdi yang paling hebat dan jumawa di negeri ini. F*&^%KIN S*&%^IT !!..

Dan tampaknya keberadaan mereka sudah dilegitimasi oleh pemerintah, akhir februari tadi tanpa ada sosialisasi dan sampai sekarangpun tidak banyak yang tahu kalau terbitnya peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2008 tersirat dan tersurat mempertahankan keberadaan mereka. Coba kalau sekali-kali iseng dan menemukan peraturan tersebut, pada salah satu pasalnya disebutkan dengan jelas bahwa calon pemimpin kecamatan yang bernama camat itu harus menguasai ilmu pemerintahan, oke ini masih dapat diterima, lalu ada lanjutannya bahwa pengetahuan teknis itu dibuktikan dengan ijazah.

Jadi kemampuan untuk memimpin suatu wilayah dinilai semata-mata hanya karena ijazah ? dan sudah jaminan kah itu? Jaminan bahwa akan bisa mengayomi masyarakat dengan baik ? Lha, pas sekolah untuk ngedapetin ijazah itu saja, mereka dengan tega merajam, menyiksa dan bahkan membunuh saudara sesama praja dengan tameng senioritas dan doktrinisasi yang berakar itu. Dan apa gunanya pengetahuan dan skill teknis ? yang relatif tidak bisa semata-mata didapatkan di bangku sekolahan.

Saya sudah terlampau antipati, biarlah..


About this entry